Menarik Diri Bukan Langkah Mundur: “Back to School” Menjadi Transformasi Intelektual Mahasiswa IPNU-IPPNU Menuju Gerbang Sekolah

    Selama puluhan tahun IPNU-IPPNU hadir sebagai rahim intelektual di ranah Universitas melalui PKPT. Namun, hari ini narasi tentang “Back to School” dianggap sebagai lonceng kegelisahan bagi eksistensi mahasiswa yang berada di dalam tubuh organisasi ini. Pasalnya, di balik kertas-kertas administratif, banyak sekali suara-suara yang penuh tanda tanya akan relevansinya dengan kebutuhan zaman. Seringkali, stigma “ikatan pelajar” membuat mahasiswa merasa turun kelas. Di dalam dunia kampus yang menjunjung tinggi kebebasan berpikir dan kedewasaan, sebutan “pelajar” kerap dianggap kurang bermartabat dibandingkan sebutan “mahasiswa”. Hal ini melahirkan tantangan: Mampukah IPNU-IPPNU melahirkan dinamika intelektual yang setara dengan status akademisi, jika pola pembinaannya masih menggunakan cara-cara sekolah menengah?

    Sangat naif, jika menganggap kebijakan “Back to School” semata-mata sebagai cikal bakal redupnya IPNU-IPPNU di kampus. Kita sebagai mahasiswa harus berani berkaca, bagaimana jika mahasiswanya sendiri yang meninggalkan organisasi ini karena kita gagal menawarkan manfaat nyata?

    Rekan Agil Nuruzzaman, selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU menyampaikan dalam pidatonya pada, Selasa, 22 Juli 2025. “Produk kaderisasi IPNU-IPPNU harus terus diperbaiki. Bila perlu diurai kembali dan disesuaikan dengan tantangan zaman”. Pernyataan ini menjadi kompas dalam menentukan langkah kedepan. Saat ini, generasi muda dihadapkan dengan tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi yang pesat, arus informasi deras dan perubahan sosial yang melaju cepat menjadi faktor penting yang harus diperhatikan dalam upaya merumuskan kaderisasi yang tepat.

    Dalam konteks ini, “Back to School” menjadi wadah dalam membawa pendidikan kader dan ketersambungan intelektual kembali ke lingkungan sekolah, dengan basis pendekatan yang lebih relevan dan inovatif. Upaya ini mencakup produk materi kaderisasi IPNU-IPPNU yang seharusnya diperbarui dan dievaluasi sesuai dengan kebutuhan pelajar masa kini. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menguatkan literasi digital serta kemampuan dalam memanfaatkan teknologi dengan bijak dan kreatif. Penting juga memasukkan isu-isu masa kini seperti, hak asasi manusia dan demokrasi dalam materi kaderisasi. Dengan begitu, kader IPNU-IPPNU tidak hanya berpengetahuan luas, tetapi juga peka terhadap permasalahan global dan siap berkontribusi untuk bangsa.

    Pada akhirnya, menarik diri secara struktural dari kampus bukanlah sebuah langkah mundur, melainkan strategi untuk “mengambil ancang-ancang”. Mahasiswa yang masih berkhidmat pada IPNU-IPPNU harus sadar akan posisinya yang bukan menjadi aktivis kampus yang haus eksistensi, melainkan sebagai mentor intelektual dan distributor ilmu.

    Kejayaan NU memang tidak ditentukan seberapa gaduh suara kita di menara gading universitas, melainkan seberapa dalam dan tajam nilai Tawasut dan Tasamuh terhujam di dada siswa dan siswi sebelum mereka mengenal dunia. Jika berhasil fokus pada mutu dan tajamnya distribusi ilmu, biarlah sejarah mencatat: Sementara yang lain sibuk memperebutkan kursi di kampus, IPNU-IPPNU telah lebih dulu menerangi cahaya dari universitas menuju lorong-lorong madrasah di pelosok negeri sekalipun, dan memenangkan masa depan di hati para pelajar Indonesia.

Oleh: Wafiq Azizah

Editor: Wahyu Nur Oktavia

Artikel Terkait

Posting Komentar