-->

Pelajar dan Media Sosial

https://pin.it/1NAVeL4
Oleh : Ali Mursyid Azisi
(Lahir di,Banyuwangi, aktif di PKPT IPNU UIN Sunan Ampel Surabaya, Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)
   Sebelum melangkah jauh pada pembahasan yang lebih jauh mengenai pelajar dan media sosial yang memiliki tantangan dan peran di era sekarang, sangat perlu bahkan wajib kita mengenal terlebih dahulu apa makna pelajar dan apa itu media sosial. 
 Pelajar merupakan seseorang yang memiliki semangat kuat untuk belajar dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun. Bagaimana dengan penyebutan kata lain seperti halnya murid?, yang berakar dari bahasa Arab disebut dengan “murid” dengan arti “seseorang yang berkomitmen”?. Dalam Itjen Kemendikbud hal ini tentu tidak jauh berbeda tertuju pada pendidikan dan pembelajaran yang besar dari dalam jati diri manusia/willpower.
 Dalam hal ini kata peserta didik pun merupakan hal yang tidak jauh beda maknanya, yaitu mengidentifikasi pada siapa saja atau masyarakat yang memiliki keinginan atau sedang belajar. Baik pendidikan formal, non-formal maupun jenis pendidikan lainnya bisa dikatakan peserta didik atau bisa disebut pelajar. Berlaku untuk siapa saja.
 Jika dikaitkan dalam konteks Islam, belajar merupakan hal yang wajib hingga ajal menjemput. Tanpa usia sebagai pembatas, tak melulu harus di kelas, dan tak sepenuhnya di sekolah berkelas, belajar merupakan hal yang wajib bagi siapapun dalam menghadapi tantangan zaman yang kian menuntut manusia untuk beradaptasi. 
 Al-Qur’an sebagai salah satu referensi primer umat Islam pun menjanjikan bagi siapa yang bersungguh dalam memeras sari ilmu, maka Allah SWT akan mengangkat derajatnya. Sebagaimana yang termaktub dalam QS. Al-Mujadalah 58:11 sebagai berikut:
 يَرۡفَعِ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡكُمۡ ۙ وَالَّذِيۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ دَرَجٰتٍ ‌ؕ وَاللّٰهُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِيۡرٌ
“Niscaya Allah SWT akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah SWT Maha teliti apa yang kamu kerjakan”.
 Scoop/ruang lingkup belajar yang minimal harus terpenuhi yaitu, membaca, menulis dan memahami konteks fenomena-fenomena yang terjadi secara dinamis setiap waktu. Membaca realita semacam ini sangat perlu bagi pelajar dalam rangka selain menunjukkan identitas sebagai seorang yang gigih belajar, juga menjadi agen perubahan di lingkungan sekitar.
 Bahkan Allah SWT dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1 menegaskan bahwa: 
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”.
 Dari redaksi ayat di atas menegaskan bahwa sebagai seorang muslim untuk senantiasa membaca, belajar dan terus belajar hingga akhir hayat. Tentu hal ini bertujuan untuk membuka cakrawala pengetahuan kita terutama yang kini tengah mengenyam pendidikan formal maupun non-formal pada umumnya. 
 Begitu pun ketika berproses di suatu organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dan organisasi lainnya, belajar merupakan hal wajib dalam membentuk karakter dan menambah wadah keilmuan seseorang. Apalagi notebennya di sini sebagai organisasi pelajar dan terpelajar.
 Setelah mengenal penjelasan secuil tentang pelajar, mari kita simak apa itu media sosial dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan di era sekarang. 
 Berbicara tentang media sosial sudah tidak asing lagi di zaman modern saat ini. Bahkan dalam hasil research di paruh akhir bulan Januari pengguna media sosial di seluruh dunia mencapai 4,22 miliar. Bahkan saat ini menjadi konsumsi manusia modern yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan saat ini. Baik itu mencakup permasalahan politik, ekonomi, pembangunan, bahkan agama dan lainnya bisa diakses dengan hitungan sekian detik saja di berbagai belahan dunia.
 Segala macam informasi pun tidak bisa dibendung satu persatu yang setiap detik mengalir, baik itu berita fakta bahkan berita dusta pun campur aduk tanpa sekat, karena terbilang hal yang abstrak dan tidak bisa diraba secara kasat mata.
 Hasil riset tentang manfaat menggunakan media sosial/digital yang dilakukan oleh Reza Praditya Yudha dan Irwansyah yang bertajuk Representasi Penggunaan Media Digital dan Pembelajaran Berbasis Penelitian: Sebuah Survey Untuk Mengukur Perilaku Pada Mahasiswa Baru di Program Studi Pendidikan Sains Unesa, memanglah menarik. Dalam menggunakan media sosial selain bisa untuk memperluas hubungan antar individu/kelompok. Media sosial/digital juga bisa membentuk identitas bahkan menciptakan legitimasi kelompok. Hal ini dipraktikkan seperti halnya mengunggah aktivitas bersama, melakukan siaran langsung, maupun diskusi umum: seolah eksistensi suatu kelompok tersebut di akui/dijustifikasi. 
 Dampaknya pun bisa menjadikan masyarakat umum secara luas akan tertarik hingga kelestarian dan kuantitas kelompok tersebut akan terus eksis dan berlangsung. Disamping itu, media digital perlu mendapatkan perhatian lebih dan serius supaya bisa menjadi penunjang dalam meningkatkan SDM (Sumber Daya Manusia). Maka dari itu, praktik dalam mengelola media digital harus di isi dengan hal yang manfaat dan positif.
 Maka dari itu, dalam mengoperasikannya perlu berhati-hati dan harus bisa memilih dan memilah, terutama kalangan pelajar. Tentu nantinya diharapkan tidak mudah terjebak dengan hal-hal negative yang tersebar di media sosial. Maka dari itu pembahasan selanjutnya akan memaparkan hal-hal yang perlu diterapkan dan dihindari kaum pelajar/generasi muslim dalam menggunakan media sosial dengan bijak sebagai bibit penerus para pendahulu (Ulama & para Pahlawan).


Artikel Terkait

There is no other posts in this category.

Posting Komentar