-->

Pelajar dan Media Sosial 1: Tantangan Melawan Informasi Hoax

 

Sumber : https://pin.it/Sapt1cg
Oleh : Ali Mursyid Azisi
(Lahir di,Banyuwangi, aktif di PKPT IPNU UIN Sunan Ampel Surabaya, Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)
  Setelah mengenal apa itu pelajar dan media sosial dengan dampaknya bagi lini kehidupan, kini saatnya masuk dalam salah satu poin penting yang kerap kali diabaikan oleh pengguna media sosial. Dalam riset Christiany Juditha yang bertajuk Hoax Communication Interactivity in Social Media and Anticipation, hal ini yang kerap kali disebut dengan hoax/berita tidak benar & tidak sesuai fakta. Arus informasi yang campur aduk antara fakta dan dusta menjadikan pengguna media sosial terutama pelajar resah dan tidak jarang kita temui yang menerima secara mentah-mentah.  
 Hal ini seakan apa-apa yang ada di media sosial seolah-olah menjadi suatu kebenaran. Tentu persepsi semacam ini perlu kita hindari sebagai kaum terpelajar. Karena saat ini penyebaran berita hoax telah menjamur di mana-mana yang bisa menyebabkan kehancuran rasa kepercayaan satu sama lain, persaudaraan antar agama, kegelisahan di tengah lapisan masyarakat bahkan menghancurkan suatu negara. 
 Jika di analogikan dalam konteks Islam, berita hoax sama dengan hadits yang tidak ada silsilah, sanad, serta keberurutan riwayatnya dari sebelum-sebelumnya. Jikalau sanad periwayat hadist tersebut tidak ada/terputus tidak diketahui dengan jelas, maka derajatnya kebenarannya akan rendah/turun. Begitupun konteks hoax yang banyak tersebar di media sosial tanpa ada nama penulisnya dengan jelas. Walau tercantum nama penulisnya pun apa yang disebarkan belum tentu hal yang benar pula. 
 Tentu di sini pelajar terutama kader IPNU diharapkan tidak mudah terjebak dalam scoop yang demikian, yakin menelan mentah-mentah informasi tanpa sumber yang jelas. Disamping diharapkan tidak menjadi korban hoax, para pelajar di sini harus jeli dan bijak dalam mengenali sumber informasi yang sekiranya dusta maupun yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.
 Berikut Langkah-langkah yang bisa diterapkan dalam bermedia sosial dengan bijak supaya tidak terjerumus menjadi korban hoax dan tidak terlibat sebagai pelaku penyebar hoax di media sosial. Pertama, selidiki terlebih dahulu berita yang tengah beredar, banyak website yang tidak bertanggungjawab terhadap keaslian hal yang sampaikan. Bisa jadi ada beberapa kepentingan yang yang melatar belakangi berita tersebut, salah satunya politik, ekonomi, maupun politik berkedok agama.
 Kedua, periksa terlebih website yang kita tuju/berita yang kita terima merupakan website resmi yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum maupun keilmuannya. Ketiga, jangan turut menyebar berita yang belum pasti kebenarannya. Keempat, jangan menciptakan berita hoax meskipun hanya sekali mikro (walaupun sekedar pada teman sebaya) hanya untuk mencari sensasi. Kelima, harus pandai memilah dan memilih informasi yang tepat. Keenam, selalu share hal-hal yang bermanfaat dan teruji kebenarannya baik secara ilmiah/keilmuan maupun hukum dan isi dengan konten-konten kreatif yang bermanfaat untuk banyak kalangan. 
 Dengan menerapkan langkah-langkah di atas dalam bermedia sosial nantinya diharapkan bisa mengurangi bahkan menghilangkan informasi hoax yang kian tersebar luas di berbagai belahan dunia. Bahkan dalam kitab suci al-Qur’an pun ada beberapa ayat yang menegaskan untuk tidak menyebar berita hoax/berkata bohong, sebagaimana berikut: 
إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُم مَّا ٱكْتَسَبَ مِنَ ٱلْإِثْمِ ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبْرَهُۥ مِنْهُمْ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”. (QS. An-Nur ayat 11). 
 Dalam karya tulis A’yun Masfufah yang bertajuk Kontekstualisasi Ayat Al-Qur’an Dalam Menghadapi Fenomena Hoax, ayat di atas menegaskan bahwa ketika seseorang menyebar berita hoax/bohong, maka Allah akan menurunkan azab bagi mereka. Apa pun yang mereka kerjakan akan mendapat balasan yang setimpal pula kelak di akhirat. Bahkan Al-Qur’an pun dalam Surah Al-Hujurat ayat 10 menganjurkan untuk menyaring segala informasi yang datang kepada kita. 
 Begitu pula jika dikaitkan dengan konteks sekarang, peran pelajar terlebih kader Nahdlatul Ulama sebagai seseorang yang terpelajar sangat perlu berhati-hati dalam menyaring segala macam informasi. Dengan begitu diharapkan bisa menjadi pengguna media sosial yang bijak, mampu menyaring informasi, dan menjadi barometer utama dalam mengolah konten yang bermanfaat serta bisa dipertanggungjawabkan

Artikel Terkait

There is no other posts in this category.

Posting Komentar