-->

Pelajar dan Media Sosial 2: Menangkal Sepak Terjang Kaum Puritan di Medsos


 Sumber : https://pin.it/Sapt1cg
Oleh: Ali Mursyid Azisi
(Lahir di,Banyuwangi, aktif di PKPT IPNU UIN Sunan Ampel Surabaya, Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)
Dalam pembahasan lebih lanjut, kali ini penulis fokuskan kajian pada bagaimana pelajar dalam menangkal langkah dan sikap kaum puritan/ekstrimis/radikalis/teroris/jihadis dan sejenisnya yang kini beralih medan dalam menerapkan/menyebarluaskan ideologi maupun gerakannya, yakni di media sosial.
 Sangat penting dalam hal ini sedikit mengenal sejarah bagaimana kelompok jenis ini melakukan aksinya. Dalam buku As’ad Said Ali yang bertajuk Al-Qaeda: Tinjauan Sosial-Politik Ideologi dan Sepak Terjangnya, pada mulanya, yang paling disorot mengenai kaum ekstrimis/puritanis yaitu ketika terjadinya penyerangan gedung WTC (Word Trade Center) pada tahun 2001 yang berlokasi di New York. Dari peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa 9/11. Dengan mengatasnamakan agama (Islam) dan lebel jihad, kelompok jaringan teroris Al-Qaeda menjadi sorotan masyarakat dunia, terutama Amerika sebagai korban saat itu. 
 Dengan pemahaman Islam yang dangkal, mereka memahami Islam secara sempit dan siaapun yang tidak sependapat dengannya maka akan di lebel kafir, dan merasa paling unggul (supremasi). Karena Islam dimaknai hanya sebatas tauhid, ibadah dan pencapaian tertinggi yang dianggap sempurna yakni jihad. 
 Pemahaman jihadnya pun hanya berkutik dalam scoop perang-melawan pemerintah-menindas kaum yang tidak sependapat dan tentu dengan cara kekerasan. Dari pemahaman ayat al-Qur’an yang pemiliar tekstualis tanpa memaca konteks turunnya ayat, Dapat kita ketahui seperti halnya kasus pengeboman yang akhir-akhir ini marak diperbincangkan publik, aksi penyerangan anggota polri, dan populisme Islam yang kian merabah di berbagai daerah.
 Sudah barang tentu hal semacam ini bukan merupakan ruh dalam mengimplementasikan nilai-nilai luhur Islam. Bahkan dalam historis Nabi Muhammad SAW dalam dakwahnya tidak pernah dengan jalan kekerasan dan semacamya. Dalam Sirah Nabawiyah, Nabi Muhammad dalam dakwahnya penuh kasih sayang, santun, tidak memusuhi lawannya, lembut dan sangat menghindari kekerasan.
 Dalam konteks dinamika media sosial yang setiap detik mengalami perkembangan informasi, kini ruang gerak/dakwah kelompok semacam ini beralih secara perlahan di media sosial. Bisa kita temui beberapa kajian-kajian, berita, bahkan informasi lainnya yang justru menyesatkan, mengandung unsur sara dan tidak segan mengancam keutuhan NKRI di media sosial yang dikelola oleh kelompok-kelompok supremasi tersebut. 
 Beberapa hal yang perlu diperhatikan pelajar muslim dalam mencari referensi kajian keislaman maupun info lainnya dengan memperhatikan betul website yang terpercaya dan tidak radikal. Dengan mengenali berbagai website kelompok sejenis Al-Qaeda yang di Indonesia dikenal dengan Salafi-Wahabi, LDII, FPI, HTI dan sejenisnya, setidaknya menjadi benteng bagi para pelajar Islam terutama kader Nahdlatul Ulama maupun masyarakat secara umum dalam mencari referensi sumber keislaman tidak terjerumus ke dalam pemahaman yang radikal dan dangkal. 
 Beberapa website yang perlu kita hindari yaitu: an-najah.net, al-manhaj.or.id, salafi.in, ahlussunnahslipi.com, salafybpp.com, salafy.in, radiorodja.com, www.al-intima.com, www.indonesiaalyoum.com, dan masih banyak lagi beberapa website sejenis. Dengan menelusuri beberapa website yang perlu dihindari, setidaknya pelajar muslim/kader Nahdlatul Ulama tidak mudah terjerumus ke dalam paham-paham ekstrimis yang beberapa waktu lalu melibatkan seorang remaja putri ketika melakukan penyerangan anggota kepolisian dengan kedok jihad di jalan Allah SWT. 
 Begitu pun kajian keislaman yang tersebar di media lainnya seperti Instagram, facebook, whatsapp, dan media lainnya yang secara perlahan masuk di kalangan pemuda-pemudi Islam. Semacam ini tentu sangat perlu dihindarkan. Targetnya pun pelajar/pemuda yang tidak pernah mengenyam pendidikan agama/di pesantren sebelumnya/belum ada bekal lebih tentang pemahaman Islam yang damai. 
 Oleh karenanya upaya menangkal dakwah/sepak terjang kelompok ini di media sosial sangat penting diperhatikan oleh kalangan pelajar muslim. Bahkan diharapkan kedepannya pelajar muslim khususnya IPNU-IPPNU mampu bersaing bahkan lebih menyebarkan kajian-kajian keislaman, berita, konten-konten yang lebih inklusif, mengandung usnsur damai, penuh toleransi, moderat dalam beragama, dan mengkaji nilai-nilai luhur Islam yang Rahmatan lil ‘alamin. 
 Upaya demikian bertujuan supaya generasi-generasi muslim selanjutnya tidak terjerumus ke dalam paham-paham radikalis yang berujung pada tindakan dengan doktrin jihad sebagaimana di atas. Baik itu mealui konten tulisan, audio visual, maupun media lainnya yang sekiranya mengandung unsur Kekerasan/menjerumus pada pemahaman yang radikal sebaiknya dihindari. Sangat disarakkan bagi para pelajar muslim secara umum maupun kader NU memilih kajian-kajian yang menebar dakwah Islam yang damai, santun, moderat, bersanad jelas, kualitas keilmuan muballighnya diakui shahih, dan jauh dari tindakan radikal.

Artikel Terkait

There is no other posts in this category.

Posting Komentar