-->

Harga Manusia di Atas Materi


HARGA MANUSIA DI ATAS MATERI

Oleh: Laaraibafiih


Sanggupkah dalam kehidupan saling menghargai yang tidak mencari untung dan rugi. Setiap momen yang dimiliki manusia mempunyai arti yang begitu mendalam bagi tiap yang menjalaninya. Manusia benar-benar dalam keadaan linglung dan hampa, semua yang berarti bisa menjadi tiada harga. Senyum merebah menjadi bencana, dibalik-balik tawa dan tangisan masih ada perasaan yang sukar untuk dicuri.


Menghargai atas nama kebersamaan, demi kelangsungan hidup yang damai. Pola yang membangun keberagamaan adalah satu, menjadikan manusia saling mengerti pada batas yang dia pahami. Disalah artikan dan dimanfaatkan selayaknya harta yang mudah diperjual belikan. Berharga murah, lalu dijual sembarangan barang.


Segala kebaikan menunjukan sikap untuk peduli, mengasihi sesama tanpa landasan iming dan kemauan sembunyi. Akan tetapi manusia yang runyam memberi kesan keji. Tindakan manusiawi dianggap sebagai kelemahan yang melemahkan. Pola pikir yang dirasa tidak diperlukan, sembari melambaikan tangan dan mengganggap dunia ini hanya ada pada dua tempat; diatas atau dibawah.


Peran sentral yang digenggam manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, menjadikan manusia yang tidak belajar menganggapnya sebagai senjata. Bahwa dirinya mampu melakukan apapun selama itu menurutnya benar, pemimpin bukan hanya kebenaran dalam satu sudut pandang mata. Namun begitulah sikap manusia dalam mengahargai kehidupannya. Melakukan dengan apa yang kita buat, belum tentu benar menurut mereka lihat.


Tiga pelajaran berharga dalam kehidupan; lapar, patah hati dan tiadanya materi. Menjadikan manusia pentingnya menolong. Akan tetapi tidak sedikit pula yang justru memanfaatkan belas kasih sebagai pundi-pundi kehidupan; mengemis, mengamen dan berpura-pura miskin dihadapan yang kaya untuk memperdaya. Melihat banyak lorong ruang yang digunakan, semakin luas juga hambatan yang menerpa. Sembako yang dibeli oleh orang kaya, beasiswa bagi kurang mampu yang diambil oleh orang pengaku-ngaku.


Sekejap manusia terlihat hina dan menyekutukan dirinya sendiri. Bahkan semakin tergerusnya peradaban semakin tidak terlihat sanggar norma yang ditegakkan. Aturan untuk dilanggar, sepenuhnya membelot untuk bersikap bekerjasama.


Tembok yang tegap akan hancur, sekeras apapun materi yang dipakai. Segenap juang demi kehancuran yang dibungkus dengan kebaikan akan memangkas kerasnya materi dinding tersebut. Maka begitulah dengan kehidupan ini. Jika lelah akan sirna diterpa badai keburukan secara berantai. Perbedaan kualitas dan kuantitas, akan berdampak pada generasi ke depan.


Disinilah waktu yang harus digunakan, sebagai manusia yang mempin dirinya sendiri. Otak ladang strategi dan sarang bagi hijaunya bumi. Jika hancur mari bangun kembali, seberapa dalam luka itu. Kita tambal dengan memulai untuk melanjutkan. Karena sering dijumpai, kebaikan yang masih ada tapi tidak tersentuh untuk dirangkul bersama. 


Dengan menggandeng dan mempercayai, manusia akan mengalami evolusi dalam tahap kebaikannya. Memberanikan diri untung berkata tidak pada kenistaan. Melaju dan berseru lantang, bahwa bersama dan mempercaya akan mengikat rantai kuat untuk hidup bernorma dan saling menghargai.


Artikel Terkait

Posting Komentar