-->

Eksistensi Remaja Milenial Melalui Tulisan

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi literasi sangat rendah. Hal ini didapat dari beberapa lembaga survei kelas dunia yang meneliti tentang kerendahan minat baca anak-anak di Indonesia, di antaranya adalah hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Developent (OECD) tahun 2015 dan peringkat literasi bertajuk “World’s Most Literate Nations” yang diumumkan pada Maret 2016, produk dari Central Connecticut State University (CCSU).

PISA mengatakan bahwa Indonesia masuk ke dalam rangking 62 dari 70 negara. Penelitian ini respondennya adalah anak-anak sekolah usia 15 tahun yang jumlahnya mencapai 540 ribu anak. Indonesia masih mengungguli Brazil namun masih berada di bawah Yordania. Skor rata-rata untuk sains sejumlah 493, untuk membaca 493 juga dan untuk matematika 490. Sedangkan skor Indonesia untuk sains sejumlah 403, untuk membaca 397 dan untuk matematika 386. Berdasarkan data-data tersebut bisa dilihat bagaimana rendahnya minat baca di Indonesia.

Ada beberapa faktor yang secara empirik mempengaruhi rendahnya minat baca di Indonesia. Pertama, dikarenakan mahalnya harga buku di pasaran sehingga orang-orang berpikir dua kali untuk bisa membeli buku tersebut. Kedua, kurangnya kesadaran diri dari tiap individu atas pentingnya membaca yang sering disebut sebagai jendela dunia. Ketiga, kurangnya infrastruktur pendidikan di Indonesia, khususnya di daerah-daerah terpencil.

Jika dilihat dari bagaimana tingkat kerendahan membaca di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis di Indonesia juga disamakan seperti kemampuan mereka dalam hal membaca yaitu masih tergolong rendah, karena bisa menulis atau tidaknya seseorang dinilai dari seberapa banyak ia membaca buku.

Saat ini Indonesia telah memasuki era Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan berkembangnya teknologi canggih dalam berbagai sektor. Revolusi industri sendiri memiliki beberapa tahapan yang dimulai dengan Revolusi Industri 1.0 yang ditandai dengan ditemukannya alat  tenun mekanis pertama  sekitar  tahun 1784 sebagai fasilitas produksi dengan menggunakan tenaga air dan uap, di mana sebelumnya manusia yang menggunakan tenaga hewan akhirnya diganti dengan alat tersebut. 

Kemudian pada tahap selanjutnya, dengan berkembangnya waktu muncullah Revolusi Industri 2.0 yang ditandai dengan produksi massal yaitu adanya energi listrik dan jalur perakitan yang terjadi pada tahun 1870. Pada awal tahun 1970, muncullah Revolusi Industri 3.0 yaitu hasil dari adanya energi listrik dari Industri 2.0 yang kemudian penggunaannya meluas pada alat-alat elektronik dan teknologi informasi yang bertujuan sebagai otomatisasi produksi. Setelah itu tibalah kita pada fase Industri 4.0 yang akan dijelaskan dengan berbagai perkembangannya yang  pesat.

Pada era milenial saat ini, semua tidak bisa dijauhkan dari dunia digital, khususnya media sosial. Generasi milenial sangat erat kaitannya dengan Revolusi Industri 4.0 dimana sebagian besar kaum milenial lah yang paling mendominasi dan bisa menikmati kecanggihan dari Revolusi Industri 4.0. Revolusi ini menitikberatkan pola digitalisasi dan otomatisasi di semua aspek manusia. Generasi milenial biasa disebut juga dengan generasi Y atau tepatnya generasi yang lahirnya pada kisaran tahun 1980 sampai tahun 2000 an.

Jadi dapat diperkirakan bahwa saat ini generasi milenial memiliki kisaran usia 17 hingga 37 tahun. Generasi milenial memiliki beberapa karakteristik di antaranya ciri yang paling jelas adalah digital addicted, kemudian yang kedua generasi milenial gemar melakukan travelling dan mempublikasikan di akun media sosialnya, kemudian yang terakhir adalah banyak generasi milenial yang suka dengan segala sesuatu serba instan dan penasaran dengan sesuatu yang baru diketahui.

Dunia kepenulisan sendiri memiliki peran penting, dalam hal ini banyak remaja milenial yang aktif menulis melalui media digital diantaranya seperti menulis melalui blog, Wordpress, Facebook dan media digital lainnya. Namun jika diperhatikan lebih lanjut budaya menulis di era milenial ini sudah semakin luntur, segala hal sudah serba cepat dan mereka menggunakan media sosial sebagai tempat untuk mendapatkan informasi. Beberapa kekurangan remaja milenial dalam hal menulis tersebut sangat disayangkan dikarenakan mereka masih belum paham betul bagaimana pentingnya menulis. 

Tentunya dengan adanya perkembangan zaman saat ini remaja milenial tidak boleh kalah dan tergerus zaman terutama dalam hal menulis. Ada beberapa faktor yang akan dijelaskan mengenai bagaimana remaja milenial bisa terus eksis dengan menulis.

Pertama, mereka harus benar-benar memahami manfaat dari menulis itu sendiri, kalaupun jika mereka belum tahu setidaknya mereka mencari tau bersama-sama sehingga akhirnya kita tahu manfaatnya dan mau melakukan kegiatan menulis.

Kedua, dengan adanya perkembangan zaman yang sangat pesat dengan difasilitasinya media-media untuk mendukung kepenulisan, kita sebagai remaja milenial tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Ketiga, dengan menulis kita bisa lebih menjabarkan ide dan gagasan secara luas bukan hanya tulisan dalam bentuk catatan, namun kita bisa berbagi ide, pengalaman dan ilmu ke banyak orang sehingga masyarakat luas bisa tercerahkan karenanya. Menulis juga bisa dipublikasi di media sosial untuk menambah jaringan dan komunitas, tentunya dengan menulis kita bisa lebih eksis dalam dunia nyata maupun dunia maya. 

Beberapa paparan di atas telah dijelaskan tentang bagaimana tingkat kerendahan membaca dan menulis di Indonesia, tentang bagaimana Revolusi Industri 4.0 dan keterkaitannya dengan kaum milenial saat ini dalam bidang kepenulisan. Banyak faktor yang bisa dijadikan landasan untuk terus bisa eksis melalui menulis di era digital yang telah disebutkan sebelumnya.

Para remaja milenial jangan menutup mata dan pikiran kalian di zaman yang sangat mendukung ini. Buka mata, buka pikiran dan nikmati bagaimana seseorang bisa sangat mudah menjadi eksis dalam hal kebaikan, seperti menulis misalnya. Ini bukan hanya sekadar eksis, namun menunjukkan kepada dunia tentang keberadaan remaja milenial yang tidak hanya menikmati teknologi namun juga bisa berkarya melalui teknologi.

Eva Umatul Farihah
Lembaga Pers dan Penerbitan

Artikel Terkait

Posting Komentar