-->

Aswaja sebagai Benteng Radikalisme



Dzawil Adkha terlihat tengah menyampaikan materi dengan antusias.
Surabaya (19/10), Apa itu Ahlussunnah? Rasul pernah bersabda kepada sahabat :
افترقت اليهود على احدى وسبعين فرقة وافترقت النصارى على اثنين وسبعين فرقة وستفترق امتي على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار الا واحدة. وقيل من هي يا رسول الله؟ قال ما انا عليه وأصحابي وفي رواية الجماعة
Menurut Syaikh Abdul Halim Mahmud (1910 - 1973 M), hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibn Majah, al Hakim, dan Tirmidzi. Namun, sayang sekali tidak ditemukan dalam Shahih Bukhari dan Muslim yang dinilai sangat kritis terhadap hadis. Ia diriwayatkan oleh beberapa ulama yang di dalamnya tercampur antara hadis sahih dan tidak sahih. Ini bisa membuka pintu keraguan terhadap hadis tersebut. Karena ada juga riwayat yang berkata sebaliknya, bahwa umat nabi akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya akan selamat kecuali satu golongan saja, yakni Al-Zanadiq (orang-orang yang menampakkan keIslamannya padahal sejatinya dia kafir).
Dijelaskan pula menurut Syaikh Muhammad Abduh (1849 - 1905 M), seorang ulama yang dinilai cukup objektif dalam memahami hadis tersebut, ia menjelaskan dalam kitab tafsirnya Al Manar dalam surat  Al An'am  ayat 159:
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”
Memang benar dan tidak dapat disangkal bahwa kelompok-kelompok umat Islam sekarang pun bermacam-macam. untuk menentukan kriterianya pun tidak susah, pasti siapa saja yang amalannya sesuai yang diajarkan Allah dan rasulnya. Namun yang menjadi kesusahan itu ketika menentukan siapa yang satu dalam hadis tersebut. Karena boleh jadi kelompok tersebut sudah ada sejak dulu tapi sudah sirna sekarang, sehingga semua umat Islam yang hidup sekarang termasuk yang sesat, atau mungkin kelompok tersebut belum ada sampai sekarang walaupun perbedaan dalam Islam sudah mencapai 73 golongan. Mungkin bisa jadi kesemuanya sama-sama benar, meskipun kelihatannya berkelompok-kelompok tetapi hakikatnya mereka sama, sama-sama mengajarkan tentang keesaan Allah, mengimani rasul, memuliakan Al-Quran, meniscayakan hari akhir, dan sebagainya.
Maka dari itu, jangan sekali-kali mencaci orang yang tidak sepaham dengan kita. Bukankah kebenaran itu relatif? Imam Syafi'i pernah berkata: "Barangkali pendapatku ini benar, tapi salah menurut orang lain. Pun pendapatku ini salah, tapi benar menurut orang lain."
Allah juga mengajarkan kita untuk bersikap baik terhadap sesama manusia, maka dalam hal ini, KH. Ahmad Siddiq merumuskan 4 prinsip dasar ukhuwah: ukhuwah islamiyah, ukhuwah basyariah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyyah. KH. Hasyim Asy'ari dalam risalah ahlussunnah wal jamaah memberi rambu-rambu supaya umat aman. Bahwa seyogianya umat Islam agar tetap dalam koridor ahlussunnah wal jamaah untuk mengikuti dalam akidah: Abu Hasan al-Asy'ari dan Abu Mansur al-Maturidi. Lain hal dalam fikih mengikuti madzahibul arba'ah, dalam tasawuf mengikuti Abul Qasim Al-Junaidi dan Al-Ghazali. Kenapa? Sebab untuk ittishal al- sanad atau tersambungnya sanad.        
Orang-orang radikal akan berkata, “kenapa kok tidak langsung ke Rasulullah?”
Karena hidup kita sudah terlampau jauh dari Rasulullah, maka untuk mencapainya diperlukan guru-guru, sebagaimana ketika kita hendak naik ke lantai atas kita harus menapaki anak tangga satu persatu, ada pepatah Arab:
لولا مربي ما عرفت ربي
Bahayanya tidak memiliki sanad keilmuan, contohnya:
Ketika kita dipersoalkan dengan masalah iddah (masa menunggunya istri sebab talak, baik talak hidup/maut), Al-Qur’an hanya menjelaskan secara mujmal:
والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء
Apa maknanya? Abu Hanifah berpendapat itu artinya 3 kali suci, Imam Syafi'i berpendapat 3 kali haid.
Lalu ada problem, bagaimana kalau wanitanya tidak haid atau katakanlah sedang hamil, maka memakai ayat:
وأولات الأحمال أجلهن أن يضعن حملهن
Bagaimana jika  talak maut? Maka memakai ayat:
والذين يُتوفَّون منكم ويذرون أزواجا يتربّصن بأنفسهنّ أربعة أشهر وعشرا
Pernah ada perdebatan di kalangan sahabat ketika ada seorang perempuan (Subai'ah al-Islamiyah) ditinggal mati suaminya dan dia sedang hamil tua, 16 hari akan melahirkan, wa qila (dan dikatakan) 25 hari, lalu sebagian sahabat memakai qaul yang 4 bulan 10 hari, namun  Sayidina Umar memakai ayat melahirkan sebagai batas iddah-nya. Sampai pada akhirnya ditengahi oleh nabi, maka iddah-nya adalah ketika ia melahirkan.
Dalam kisah lain pernah Sayidina Ali ditanya oleh seseorang, "engkau mengetahui Muhammad dari Tuhanmu ataukah mengetahui Tuhanmu dari Muhammad?" Sayyidina Ali menjawab "kalau aku mengetahui muhammad dari Tuhanku, niscaya aku tidak akan butuh kepada rasul. Jika aku mengetahui tuhanku melalui Muhammad, maka Muhammad yang akan lebih aku percaya dari Tuhanku. Maka yang benar adalah aku mengetahui Tuhanku dari Tuhanku (melalui ayat-ayat kauniyah yang hadir di alam sekitar manusia), kemudian datanglah seorang rasul untuk menjelaskan apa makna yang diinginkan Tuhanku.
Dalam kisah ini, Sayidina Ali memposisikan Rasulullah sebagai guru/sanadnya untuk mencapai rida Tuhan.
Lalu bagaimana kalau belajar tanpa sanad?
Syaikh Usamah Al-Sayid mengatakan, “sebab adanya paham radikalisme adalah tidak adanya kesadaran dalam belajar ilmu yang benar secara talaqqi”. Banyak orang yang abai dalam belajar sehingga mengikuti cara mereka sendiri, misalnya memahami Islam hanya dengan mempelajari sendiri dari buku-buku atau pun internet, atau mungkin belajar dengan guru tetapi yang tidak kompeten ilmunya.
Imam Muhammad bin Sirrin pernah berkata yang dikutip oleh Imam Muslim dalam muqaddimah sahihnya:
إنّ هذا العلم دين فانظر عمّن تأخذ دينكم

Radikalisme
Aliran radikal  melahirkan dua paham ekstrem: ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Adapun ekstrem kanan ialah orang-orang yang dengan mudahnya mengkafirkan sesama muslim, sehingga sering membunuh, meneror, mengebom, dsb. Adapun ekstrem kiri ialah orang-orang yang berpenampilan agamis, tetapi mengarahkan umat kepada yang dilarang oleh Allah.
Mereka pernah berkata:
إنّ الخمر حلال والنبي يتوضع بالخمر
Untuk menangkal paham radikal maka langkah pertama adalah dengan membersihkan diri kita terlebih dahulu, sebelum kemudian menjaga keluarga kita, lalu orang-orang disekitar kita. Ibda' binafsik! sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran:
يا ايهالذين امنو قوا أنفسكم و أهليكم نارا
Pada era digital ini, maka sebagai generasi milenial kita harus menguasai medsos agar tidak tercemar dengan paham radikal, yang terkadang kita sendiri tidak menyadarinya bahkan turut menjadi bagian pendukung paham tersebut. Menyibukkan diri dengan belajar, mengaji dan mengkaji akan menjadi benteng dari paham-paham radikal terhadap diri sendiri.  Menjadikan semua kajian keislaman bersifat dialog akademis bukan dekontekstualis. Saring sebelum sharing dan berdakwahlah secara santun namun tetap santuy. Dalam berdakwah pun seyogianya dengan cara yang baik dan santun sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
Mari kita tampakkan keindahan Islam lewat akhlaq mulia, lewat santunnya dakwah kita.
Nikmati keindahan Islam lewat perbedaan yang hakikatnya menyatukan.
Cukup! Itu saja.

Semoga bermanfaat
Oleh                : Asyiah Faridatus Saadah (BSCC)
Narasumber     : Muhammad Dawil Adkha

Artikel Terkait

Posting Komentar