Karya Tulis: Rekanita Aisyah
(Departemen DPO Koor)
Tidak sedikit orang yang skeptis terhadap NU hari ini. Kasus oknum yang melibatkan korupsi, dinamika politik internal yang terkadang penuh tarik-menarik kepentingan, hingga keselarasan antara nilai yang diajarkan di pesantren dengan perilaku sebagian figur di ruang kekuasaan adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Wajar jika sebagian orang kemudian bertanya, apakah organisasi sebesar ini masih layak dipercaya?
Namun menariknya, di tengah berbagai kekecewaan itu, masih banyak orang yang memilih bertahan. Bukan sekedar bertahan, namun juga tetap aktif, tetap mengabdi, dan tetap meyakini bahwa NU adalah rumah yang pantas diperjuangkan. Bukan karena mereka tidak mengetahui persoalannya. Justru mereka memahami betul siapa oknum yang mencoreng nama baik organisasi dan kasus-kasus yang pernah terjadi. Mereka bertahan karena mampu membedakan antara perilaku individu dengan nilai-nilai yang menjadi ruh jam'iyah. Kesalahan segelintir orang tidak serta-merta menghapus ajaran tawassuth , tasamuh , tawazun , dan semangat gotong royong yang telah diwariskan jauh sebelum nama-nama itu muncul dalam pemberitaan.
Penempatan posisi IPNU-IPPNU menjadi penting untuk direnungkan. Banyak kader muda yang merasa nyaman bertumbuh di organisasi ini bukan karena tidak adanya perbedaan pendapat atau dinamika, melainkan karena budaya kekeluargaan, semangat belajar, dan ukhuwah yang masih menjadi fondasi utama. Ruang untuk berdialog masih terbuka, perbedaan masih bisa disikapi sebagai proses pendewasaan, dan pengabdian belum sepenuhnya dibayangi oleh kepentingan-kepentingan yang lebih besar. Nilai-nilai seperti inilah yang sesungguhnya menjadi modal berharga untuk dijaga.
Sayangnya, kenyamanan tersebut bukanlah sesuatu yang akan bertahan dengan sendirinya. Sejarah banyak organisasi menunjukkan bahwa semakin besar wewenang dan sumber daya yang dimiliki, semakin besar pula godaan untuk mengedepankan kepentingan pribadi atau kelompok. Jika generasi IPNU-IPPNU kelak mengulangi pola yang sama ketika berada pada struktur yang lebih tinggi—mengutamakan jabatan daripada pengabdian, kepentingan kelompok daripada persaudaraan, atau ambisi pribadi daripada nilai organisasi—maka kepercayaan masyarakat yang selama ini bertahan dengan keyakinan bahwa "ini hanyalah ulah oknum" perlahan akan terkikis.
Oleh karena itu, tugas generasi penerus bukan sekedar melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi. Tanggung jawab yang jauh lebih besar adalah memastikan bahwa nilai-nilai yang diwariskan tetap hidup dalam perilaku para kadernya. Menjaga agar jarak antara prinsip dan praktik tidak semakin melebar. meremehkan bahwa ketika amanah, pengaruh, dan kekuasaan datang, yang tumbuh bukan ego, melainkan integritas dan keteladanan.
Pada akhirnya, kepercayaan masyarakat terhadap NU bukanlah warisan yang akan bertahan dengan sendirinya. Ia adalah amanah yang harus terus dijaga melalui sikap, akhlak, dan keberanian untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah terjadi. Sebab orang akan tetap percaya bukan karena menganggap NU tanpa cela, melainkan karena mereka melihat masih ada generasi yang bersungguh-sungguh menjaga nilai-nilai besarnya.
Editor: Syifa Fadlilah

Posting Komentar
Posting Komentar