Tanggal 27 Desember 2025, Syafiq Ridhan Ali Razan (Syafiq) seorang pemuda yang sedikit lagi merayakan kemenangannya melepas kelabilan di usia SMA menuju bangku perkuliahan harus rela di genggam oleh gagahnya Gunung Slamet, dan momen bercengkrama oleh sanak saudara dikala tahun baru yang semestinya pecah dengan ramainya suara kembang api yang bersahutan dan guyubnya satu keluarga yang mengadakan ritual makan bersama, malah pecah dengan suara tangisan dan kesedihan dari para sanak saudara.
Kadang kita semua bingung terhadap hobi seseorang yang suka mendaki gunung, apa manfaatnya? Apa kegunaannya? serta buat apa mengeluarkan banyak uang dan capek capek mendaki, yang ujung ujungnya nanti akan membuat orang orang menyiksa fisik dan menyiksa dompetnya, tapi dari sini saya pernah dengar ungkapan “melakukan suatu hobi merupakan sebuah keanugrahan” begitulah ujar Fiersa besari idolanya para pendaki Indonesia.
Tapi teman-teman kali ini bukan statement itu yang akan saya bahas bukan juga kronologi rinci saudara Syafiq yang menghilang dan akhirnya ditemukan pada tanggal 14 Januari 2026 di Gunung Slamet, melainkan refleksi diri kita masing masing terkait kejadian Syafiq yang hilang kemarin tanggal 27 Desember 2025 di Gunung Slamet “apakah kita mendaki untuk menaklukan puncak, atau untuk belajar cara kembali pulang”? atau hanya sebuah ajang pamer kekuatan dan pesona kita di sosmed dengan foto background yang tak bisa didapatkan di rumah kecuali dengan editan AI.
Siapa yang tidak ingin melihat keindahan sunset atau sunrise dibalik gunung, siapa juga yang tidak ingin melihat luasnya lautan awan, tapi….siapa yang mau jujur bilang ke orang tua, istri atau suami untuk izin pergi berkelana naik gunung?, inilah yang paling sakral dari segala peraturan “izin yang jujur” dan apa adanya, sekilas ketika saya membaca berita Syafiq dia sempat memberi pesan terakhir kepada ibunya lewat WA "buk, aku nyasar tekan Gunung Slamet" karena menurut beberapa info, awalnya dia pamit ingin mendaki Gunung Sumbing yang ada di Wonosobo, tapi akhirnya malah mendaki Gunung Slamet dengan meninggalkan pesan WA kepada ibunya seperti redaksi di atas.
Hal itu mengingatkan saya kepada salah satu syair Imam Syafi’i dari kitabnya Diwanul Imam Syafi’i ;
ُأَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيهِ # وَمَا تَدْرِي بِمَا صَنَعَ الدُّعَاء
“Apakah engkau mengejek doa dan meremehkannya, padahal engkau tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Tuhan pada doa?”
Mungkin saja pesan Syafiq yang di sampaikan kepada ibunya sembari mengambil gambar basecamp Gunung Slamet hanyalah sebuah gurauan karena tidak sesuai rencana awalnya untuk mendaki Gunung Sumbing, tapi siapa yang tahu dan siapa yang akan bersiap untuk menerima Syafiq yang hilang dan kehidupannya berakhir pada dekapan gunung slamet.
Tapi terlepas itu, apakah benar saudara Syafiq hilang karena termakan kata katanya sendiri atau karena faktor yang lain kita tidak mengetahuinya sampai muncul berita terbarunya, saya hanya ingin menegaskan untuk berbicara apa adanya dan berbicara jujur untuk meminta izin ketika ingin bercengkrama dengan dunia pendakian, karena pada dasarnya kita tidak tahu alam disana akan menyambut kita seperti apa, kita tidak tahu rencana Tuhan apa yang sudah disediakan, tapi yang menjadi senjata paling sakral kita untuk menghadapi semua itu ialah ridha, restu dan do’a dari orang-orang di sekitar kita, karena jujur dan apa adanya akan membuat kita pulang kepada orang-orang tercinta.
Dari semua kejadian memilukan yang telah terjadi di dunia pendakian khusunya sudara Syafiq saya hanya berpesan: "Sayangi diri kalian masing masing hargai kejujuran pada diri kalian, sayangi juga orang-orang tercinta yang menunggu kehadiran kalian, untuk keluarga korban semoga diberi ketabahan yang tak terkira ,dan saya ucapkan teruntuk para timsar BPBD dan semua kalangan yang sudah berusaha mencari keberadaan saudara Syafiq di dekapan Gunung Slamet hingga menemukannya dalam keadaan tewas, semoga Tuhan memberikan balasan yang tak terkira, kita semua tidak tahu apa yang akan terjadi esok lusa atau seterusnya?, tapi Tuhan punya rencana baik yang tidak bisa kita terka-terka".
Oleh: Althof Aminuddin
Editor: Wahyu Nur Oktavia

Posting Komentar
Posting Komentar