Dibuat Oleh: Alfa Sabila Ainurrahma
Jam di layar ponsel menunjukkan pukul 05.12 pagi ketika suara alarm berbunyi nyaring di sudut kamar kos sempit itu. Ara mengusap wajahnya pelan sambil meraih ponsel yang sedari malam belum sempat diisi daya penuh. Matanya masih berat, tetapi pikirannya sudah dipenuhi daftar kegiatan hari itu. Pagi kuliah, Siang rapat organisasi, Sore latihan acara seminar nasional, Malam menyusun proposal kegiatan. Belum lagi tugas presentasi yang harus dikumpulkan besok. Ia duduk di tepi kasur, menatap tumpukan map organisasi yang berserakan di lantai. Di dinding kamar tergantung jas almamater hijau tua yang sudah mulai kusut karena terlalu sering dipakai. “Mahasiswa apa panitia hidup?” gumamnya sambil tertawa kecil pada diri sendiri.
Ara termasuk mahasiswa yang dikenal aktif di kampus. Sejak semester awal, ia sudah mengikuti berbagai organisasi. Mulai dari himpunan mahasiswa jurusan, komunitas literasi, hingga organisasi daerah. Namanya sering muncul di susunan panitia berbagai acara kampus. Awalnya ia hanya ingin mencari teman dan pengalaman. Namun semakin lama, ia justru tenggelam dalam dunia organisasi yang penuh rapat, proposal, dan deadline.
Hari itu kampus masih tampak sepi ketika Arga datang. Udara pagi terasa dingin. Ia berjalan cepat menuju ruang kelas sambil membawa laptop dan map proposal sekaligus. Beberapa mahasiswa lain baru berdatangan dengan wajah mengantuk.
“Ga capek, Ra?” tanya Rina, teman sekelasnya.
“Capek sih, tapi udah biasa,” jawab Ara singkat.
Rina tersenyum kecil. Ia sebenarnya kagum pada Ara. Di tengah kesibukan organisasi, Ara tetap berusaha hadir di kelas dan mengerjakan tugas. Meski kadang nilainya menurun, ia tidak pernah benar-benar menyerah.
Kuliah pagi berlangsung dua jam. Namun pikiran Ara tidak sepenuhnya berada di dalam kelas. Sesekali ponselnya bergetar karena pesan dari grup panitia.
“Syabab, pematerinya minta rundown revisi.”
“Ka, konsumsi belum fix.”
“Ara, nanti jam tiga jangan lupa rapat.”
Belum sempat dosen selesai menjelaskan, kepala Ara sudah terasa penuh.
Setelah kuliah selesai, ia berlari kecil menuju sekretariat organisasi di lantai tiga gedung mahasiswa. Disana sudah ada beberapa anggota panitia yang sibuk membahas acara seminar nasional yang tinggal seminggu lagi. Ruangan itu tidak besar. Cat dindingnya mulai pudar dan kipas anginnya berbunyi kasar setiap kali berputar. Namun bagi Arga, tempat itu seperti rumah kedua.
“Banner belum jadi.”
“Dana sponsor masih kurang.”
“Moderator belum konfirmasi.”
Kalimat-kalimat itu terus bersahutan.
Ara menarik napas panjang lalu membuka laptopnya.
“Oke, kita selesaikan satu-satu,” katanya mencoba tenang.
Rapat berlangsung berjam-jam. Ketika orang lain makan siang dengan santai di kantin, Ara hanya sempat membeli kopi sachet dan roti kecil dari minimarket kampus. Kadang ia iri melihat mahasiswa lain yang pulang kuliah lalu bisa beristirahat. Sementara dirinya harus terus berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain.
Namun di balik lelah itu, ada sesuatu yang membuatnya bertahan. Ia menyukai perasaan ketika sebuah acara berhasil dilaksanakan. Ia menyukai momen ketika semua panitia tertawa bersama setelah berminggu-minggu bekerja keras. Ada kebahagiaan sederhana yang sulit dijelaskan.
Malam hari, sekretariat mulai semakin sepi. Hanya tersisa Ara dan beberapa teman inti panitia. Mereka duduk melingkar di lantai sambil memeriksa revisi proposal.
“Aku kadang mikir,” ujar zara tiba-tiba, “kenapa kita segila ini ya?”
Ara tertawa kecil.
“Mungkin karena kita pengen punya cerita waktu kuliah.”
Ucapan itu membuat ruangan mendadak hening.
Semua orang memiliki alasan masing-masing mengikuti organisasi. Ada yang ingin mencari relasi. Ada yang ingin melatih kemampuan berbicara. Ada yang ingin dianggap aktif. Ada pula yang sekadar tidak ingin merasa sendirian di dunia perkuliahan. Bagi Ara sendiri, organisasi membuatnya belajar tentang kehidupan. Ia belajar bahwa bekerja sama tidak selalu mudah. Bahwa perbedaan pendapat sering kali menimbulkan konflik. Bahwa tidak semua kerja keras akan dihargai. Dan bahwa menjadi dewasa ternyata berarti tetap bertanggung jawab meski sedang lelah.
Namun kehidupan organisasi juga perlahan mengubah dirinya. Ia jadi sering pulang larut malam. Waktu tidur berkurang. Nilai beberapa mata kuliahnya mulai turun. Bahkan ibunya di rumah sempat menelepon dengan nada khawatir.
“Kamu kuliah atau sibuk organisasi terus?”
Pertanyaan itu sempat membuat Ara diam cukup lama. Ia tahu ibunya hanya takut dirinya kehilangan arah.
Malam itu, setelah semua teman pulang, Ara duduk sendirian di sekretariat. Lampu ruangan remang-remang. Dari jendela terlihat halaman kampus yang mulai sunyi. Ia membuka laptop dan melihat daftar tugas kuliah yang belum selesai. Kepalanya terasa berat. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ia merasa lelah sekali. Bukan lelah fisik semata, tetapi lelah karena terus mencoba memenuhi banyak hal sekaligus. Di tengah kesunyian itu, ponselnya berbunyi. Pesan dari ibunya.
“Jangan lupa makan dan jaga kesehatan.”
Sederhana, tetapi cukup membuat dadanya hangat. Ara tersenyum kecil. Ia sadar bahwa selama ini ia terlalu sibuk mengejar kesempurnaan sebagai mahasiswa aktif hingga lupa menjaga dirinya sendiri.
Sejak malam itu, Ara mulai belajar membagi waktu dengan lebih baik. Ia tidak lagi menerima semua tawaran kepanitiaan. Ia mulai berani berkata tidak ketika merasa kewalahan. Ia tetap aktif organisasi, tetapi tidak sampai melupakan kuliah dan kesehatan. Dan kini ia mulai fokus untuk memperbaiki nilai yang tertinggal dan aktif dalam kegiatan perkukilahan.
Semester demi semester telah berlalu.
Pada akhirnya, Ara memahami bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang nilai tinggi atau jabatan organisasi. Kehidupan kampus adalah tempat belajar mengenal diri sendiri. Tentang bagaimana bertahan di tengah tekanan. Tentang bagaimana menghargai proses. Dan tentang bagaimana menemukan arti pulang di antara ruang kelas, sekretariat, serta mimpi-mimpi yang perlahan tumbuh menjadi nyata.
Ketika hari wisuda tiba, Ara berdiri mengenakan toga sambil memandang halaman kampus yang dulu begitu akrab dengan langkah lelahnya. Ia tersenyum pelan. Di tempat itu, ia pernah jatuh, menangis, tertawa, dimarahi dosen, begadang bersama panitia, hingga hampir menyerah. Namun semua itu kini berubah menjadi kenangan yang tidak akan mudah dilupakan. Sebab pada akhirnya, kehidupan mahasiswa bukan tentang siapa yang paling sibuk, melainkan siapa yang mampu bertahan dan tumbuh dari setiap prosesnya.

Posting Komentar
Posting Komentar