-->

Melukis Ramadan, Menggambar Diri

Ramadan bulan para perindu menunaikan setoran cinta kepada-Nya. Bulan penantian “karena ada alasan” tersendiri; karena memperoleh ampunan (seolah tanpa harus menyadari) segala perbuatan, seakan-akan ada wilayah pemakluman sealam pemaafan Allah untuk kita semua (tanpa persidangan batin mengakui kesalahan), ditambah lagi alasan ketergantungan total penghapusan dosa (tanpa ritual pembersihan diri secara menyeluruh). Akan tetapi, seperti apakah bulan keindahan itu dalam bentuk dan isi lukisanmu sendiri?

Tersebutlah di atas bahwa Ramadan adalah dari bulan ke berbulan-bulan hingga me-Ramadan-kan kehidupan dalam laku keseharian. Sebagai ikhtiar keseimbangan hidup, di bulan suci ini kita menabung bekal kesetiaan “perjalanan yang lurus” menuju akhirat kelak, melewati jalan panjang dunia berliku dengan senantiasa menawar cinta-Nya yang Agung. Dengan permohonan petunjuk dari-Nya akan ke manakah langkah semestinya dan seharusnya diperjalankan.

Makanlah saat lapar, dan berhentilah makan sebelum kamu kenyang. Ini hadits yang sangat populer, sangat dipahami, tapi, seperti banyak hadits-hadits berisi panduan praktis kehidupan lainnya, sekaligus sangat jarang dipraktikkan oleh kalangan muslim sendiri.

Padahal hadits yang boleh disebut sebagai salah satu bentuk aplikasi praktis dari perintah ayat wakuluu wasyrabuu walaa tusrifuu innahu laa uhibbul musrifuun, makan dan minumlah tapi jangan berlebihan, karena Dia tak suka orang-orang yang berlebihan (QS 7:31) ini; bersamaan dengan panduan tentang apa saja yang ‘wajib-sunnah-mubah-thoyib’ masuk ke perut, pada dasarnya adalah panduan sapu jagat yang sempurna bagi kesehatan. Sebagian terbesar penyakit bermuara dari perut, dan sudah pasti itu berasal dari kualitas sekaligus kuantitas yang masuk ke dalamnya.

Di jalan-jalan kecil, parameter Ramadan dalam pemahaman umum berarti menahan (tergantung perluasan atau pengerdilan) diri untuk tidak makan dan minum mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Ketika memasuki gang-gang dipersempit lagi menjadi “jalannya kelaparan” mulanya supaya kita merasakan apa yang dirasakan orang-orang, setelah dipikir-pikir akhirnya buntu sendiri mengartikan lapar hanya sebatas sesal diri.

Tapi Ramadan terbebas dari segala bentuk perasaan manusiawi itu, mau tidak mau, ia pasti datang menemui kita, bertamu padamu sendiri. Kalau berprasangka baik, sikap Allah demikian memaksa manusia untuk berpuasa, sebab puasa adalah salah satu hal yang “tidak disenangi” manusia. Karena kebanyakan manusia cenderung menyenangi sesuatu materi, gayanya rela berbuat apa saja demi memperoleh kesenangan semu. Lazimnya, sikap dan perilaku manusia berdasar pada “iya mau asal senang”, tanpa pernah mau sinau posisi ketepatan dan ketetapan presisi hidupnya.

Kalau pakai patokan Allah, apa yang baik di mata manusia, belum tentu baik bagi-Nya. Terhadap anggapan senang atau tidak senang, suka atau tidak suka menurut manusia, sangat jauh berbeda dengan kehendak-Nya. Bahwa Allah kasih lowongan Ramadan agar mempekerjakan manusia berpuasa. Kemudian Allah menyatakan pula tentang honor atau gaji kerja puasa sebulan hanya untuk-Ku.

Tapi itu bukan perkara untung-rugi, sebab manusia sungguh banyak utang kepada-Nya. Ramadan menjadi nota tagihan-Nya, yang dalam setahun kita wajib mencicil sebulan berpuasa, atau selama dua belas bulan kita membayarkan puasa sebulan. Itu pun setoran kita takkan melunasi segala utang piutang dengan Allah.

Seandainya ungkapan puitis, puasa adalah pernyataan cinta-Nya kepadamu, Ia merindukan saat-saat bersamamu: mengendalikan dan mengelola nafsu keduniawian. Kita digembleng puasa sebagai metode laku pengembara, dengan atau tanpa peta, menyusuri jalan ke penempuhan yang sejati. Patron hidup mendasar bagi segenap daya penyembuhan dan pertumbuhan nilai-nilai manusia atas dirinya sendiri.

Bagaimana seseorang sanggup tahan di jalan Allah yang mengembarai—kerja dan usaha tergantung pada sehari saja—dalam keadaan stagnan, posisi stone, dan sikap freeze kepasrahan diri menyeluruh? Apabila sesudah apa yang dikerjakan hari itu, kita pegang pengharapan atau pengertian sejati, sebagaimana Allah mewanti-wanti, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang sabar.” (QS. al-Baqarah [2]: 155)

Mohammad Ainun Najib
Alumni PKPT IPNU UINSA

Artikel Terkait

Posting Komentar